Tuesday, February 19, 2013

Kepaksian Belunguh: Sejarah Paksi Pak Sekala Brak

Jatuhnya Kerajaan Sekala Brak Berdirinya Paksi Pak dan 
Penyebaran Penduduk Sekala Brak Ke Penjuru Lampung. 

BATU KEPAMPANG : Tempat Eksekusi Pemenggalan Kepala zaman Sekala Brak Kuno


Sedikit cuplikan dari buku Sultan Ratu Pikulun yang berjudul Sekala Brak Asal Usul Suku Bangsa Lampung. Tersbutlah kisah, beberapa anak raja – raja di Pagaruyung ( Sumatera Barat) merantau untuk mengembangkan Agama Islam, dan setelah bertahun tahun – tahun empat orang diantaranya, secara kebetulan bertemu di Puncak Gunung Pesagi terletak dalam Kerajaan Sekala Brak, yang dihuni oleh Suku Tumi beragama Budha, mereka itu ialah :  1.Umpu Blunguh, 2.Umpu Pernong, 3.Umpu ( Bejalan ) Diwai 3.Umpu nyerupa . Umpu berasal dari kata “ampu” dan ampu itu tertulis di Batu Tulis Pagaruyung, bertanggal Tahun 1356 Masehi. Ampu Tuan ialah sebutan bagi anak - anak Raja Pagaruyung ( tuturan Pun di Belalau berawal dari singkatan Ampu). Dipuncak gunung Pesagi, ini mereka berempat berembuk, bagaimana cara akan mengIslamkan seluruh penghuni Kerajaan itu, dengan berkesimpulan akan dilakukn secara damai (dakwah), tetapi kalau tidak berhasil terpaksa dilakukan walaupun dengan peperangan, untuk itu membentuk, Suatu Kesatuan yang diberi nama Paksi Pak dengan anggota - anggotanya terdiri dari mereka yang telah dimasukkan dalam agama islam andaikata terpaksa mengadakan peperangan nantinya bisa dimenangkan oleh Paksi Pak, maka Tanah Bumi Sekala Brak akan dibagi empat, dan masing - masing mereka akn menjadi Raja. Setelah mengadakan perembukan mereka sama - sama berdo'a, kepada Tuhan yg Maha Kuasa demi tercapainya maksud mereka. Yang mana mereka masing –masing mendapat ilham sebagai berikut , 1. Umpu Belunguh akan menjadi Raja yang mempunyai banyak harta, 2. Umpu Pernong akan menjadi Raja turun temurun dan diberi sifat cerdik, 3.Umpu Bejalan diWay akan menjadi Raja gagah perkasa, 4. Umpu Nyerupa akan menjadi Raja yang mempunyai banyak Rakyat. Inilah asal mula gunung pesagi menjadi gunung Pertapaan, yang banyak mendapat kunjungan dari segala pelosok daerah Lampung.
Keempat umpu itu turun dari Gunung Pesagi tinggal di pinggiran kota dijelaskan bahwa seorang gadis bernama si bulan dianggap mereka sebagai saudara kandung dan banyak memberi bantuan kepada mereka, besar kemungkinan mereka itu tinggal dirumah gadis itu dan dianggap sebagai anak anaknya sendiri karna tujuan mereka semula menyebarkan agama islam, maka dengan tekun mereka mengadakan dakwah dakwah. Pada mulanya dilakukan secara sembunyi sembunyi tetapi setelah banyak pengikutnya secara berterang terangan. Jadi sekala berak pada waktu itu terdiri dari dua macam agama, yaitu agama hindu budha dAn agama islam yang mereka beri nama golongan Paksi Pak, setelah dipinggaran rata rata memasuki agama islam dan mulai meluas ke jantung ibu kota, maka Raja Sekala Brak yang bernama Umpu Searumong menganggap agama baru itu dapat menggoyahkan kedudukanya sebagai raja, menganggap empat orang umpu umpu berserta pengikutnya (paksi pak) sebagai lawan berbahaya dan perlu secepatnya ditumpas. Maka terjadilah peperangan antara pasukan kerajaan dengan pasukan paksi pak tetapi karena rakyat sudah banyak beragama islam dan banyak pula belum masuk tetapi telah bertekad memasukinya, maka jumlah kedua belah pihak dapat dikatakan seimbang, dan peperangan berjalan dengan sengit, si bulan meskipun ia hanya seorang gadis turut pula bertempur dengan gagah berani menambah menghebatnya peperangan itu setelah pasukan menderita banyak korban lantas mengundurkan diri tetapi terus dikejar ke arah bedudu dan belampau, didekat kampung bedudu tempatnya makam Umpu Sekarumong nama makam jerambai bersama anak angkatnya dari liba haji, dan didekat kampung belampau terletak makam manik, nama makam kejutai masih keluarga dari umpu tersebut. Dari belampau pasukan kerajaan mengudurkan diri ke pekon awi dan disini mereka cerai berai tidak dapat bertahan lagi, sebagian diantaranya menyerah dan sebagian lagi lari ke arah ke pesisir kerui, mendirikan perkampungan perkampungan menempati daerah penggawa lima, yaitu kampung kampung Pedada, Bandar, Negri, Perpas, Menyancang yang kemudian dapat di taklukan oleh “Lemia Ralang Pantau “ yg datang dari arah Ranau dengan bantuan lima orang penggawa dari Paksi Pak, dari lima penggawa inilah terjadinya nama daerah itu penggawa lima sebab kemudian mereka berlima tinggal menetap di daerah yg telah ditaklukanya, setelah selesai peperangan mereka yang datang menyerahkan diri diterima oleh keempat umpu itu, dan setelah diislamkan diberi kedudukan dalam pemerintahan yang layak, Pohon melasa kepampang pujaan suku tumi itu disuruh tebang, kayunya dibuat “pepadun” menyerupai bangku tempat duduk, penebangan kayu melasa kepampang pujaan suku tumi itu adalah simbol penggantian agama budha dengan agama islam, dan jatuhnya kekuasaan tumi di daerah ini untuk tidak terlalu mengecewakan mereka, maka bangku itu dipergunakan sebagai singgahsana, tempat melantik kepala kepala suku yang datang menyerah pada kedudukanya semula, atau mengangkat mereka yang telah berjasa membantu dalam peperangan kemudian dipergunakan pula untuk mengislamkan mereka yg datang menyerah secara perorangan sama halnya dengan waktu “gigilang” di banten tempat Sultan Hasanudin bersemayam memasukan orang orang kedalam agama islam pada tahun 1501 sangkerta atau tahun 1579 masehi. Kemudian setelah seluruh rakyat memasuki agama islam pepadun itu hanya dipergunakan untuk menobatkan raja raja Paksi Pak dan keturunanya saja. jadi pepadun melasa kepampang inilah pepadun yang pertama di daerah Lampung. Dan demikianlah asal mulanya kayu yang dipergunakan untuk keperluan itu serta sebab musababnya diciptakan. Perbatasan tanah bumi Paksi Pak keseluruhanya sebagai berikut :
“ Dari selalau (pantai kerui) terus keselatan, mendapatkan tanjung cina naik bukit sawah atau ( bukit barisan ) turun di batu sigawan, menyeberang wai semangka, naik tikor berak, membelah tikor berak, mendapatkan bukit begelung terus ditangkit keba, menuju pondok puar kebenatan, mendapatkan kubu gayau menuju garis keulu mayus, terus kebukit ciguk, memutuskan air kiwis, naik pematang berpala terus di kaur tebak, menyebrangi danau ranau, milir menurut bukit sawa ketebu tigantung ulu menulah sampai ke kuala tanjung sakti dari tanjung sakti terus ke kuala stabas sampai di selalau” . Lagi disini jelas bahwa perwatasan Sekala Brak atau Paksi Pak tersebut hanya meliputi seluas x kewidanaan kerui saja. Kita tidak boleh menganggap daerah demikian itu terlalu kecil sebagai bentuk suatu kerajaan, karna luasnya hampir sama dengan x kesultanan kesultanan di sumatera utara atau kesultanan kesultanan di malaysia.
Kalau ada keistilah keratuan keratuan di perbagai daerah lampung seperti ratu dipuncak, ratu di balau, ratu dipugung dan ratu pemanggilan, tentulah penjelmaan keratuan itu sebagai kelanjutan dari perkembangan orang orang dari sekala berak yg menghiliri sungai sungai dan mendirikan tempat tinggal menjadi kampung kampung yg besar dn akhirnya dari beberapa puluh kampung itu membentuk suatu kerajaan kecil yg berdiri sendiri dengan nama kedatuan atau sebutan kedaton untuk rumahnya kemudian meningkat sebagai keratuan dengan sebutan keraton kemudian daerah paksi pak dibagi dan masing masing umpu berkuasa dalam lingkungan daerahnya selaku raja yaitu : Umpu Belunguh dapat bagian daerah buay belunguh dengan ibu negeri kenali (sekarang ibukota kecamatan Belalau), Umpu Pernong dapat bagian buay pernong dengan ibu negri hanibung atau Batu Brak, Umpu Jalan diWai dapat bagian Buay jalan diwai dengan ibu negeri puncak kemudian berbentuk marga kembahang,  Umpu Nyerupa pembagian daerah buay nyerupa dengan ibu negri Tampak Siring kemudian berbentuk Marga Sukau,   Si bulan di beri pembagian cenggiring way nerima, tetapi kemudian si bulan meninggalkan daerahnya hingga daerahnya itu digabungkan dengan daerah Umpu Pernong.
Perincian perwatasan daerah masing masing umpu sebagai berikut, Tanah bumi umpu belunguh seluruh kecamatan sumber jaya dan sebagian besar kecamatan belalau, tanah bumi umpu pernong sebagian dari kecamatan belalau sebagian dari kecamatan pesisir tengah dan kecamatan pesisir selatan,  tanah bumi jalan diwai hanya sebagian kecil dari kecamatan belalau, tanah bumi umpu nyerupa kecamatan balik bukit dan kecamatan pesisir utara serta sebagian pesisir tengah, kemudian masing masing umpu itu memimpin anak buahnya dengan adil dan bijaksana membentuk adat yang tentunya sejalan dengan hukum sarak dengan menyertakan adat lama yg masih dapat dipakai serta mengutamakan undang undang minangkabau” pepatih sebatang yang sampai tahun 1865 masih berlaku di kerui meskipun kedudukan tertinggi ialah raja atau saibatin didalam kebuayanya, tetapi untuk menetapkan sesuatu yang dianggap penting keempat umpu umpu itu selalu bermusyawarah sehingga semua adat yg berlaku di empat daerah itu seragam. Adat jujur yg telah ada sejak dahulu tidak diganggu gugat malahan disempurnakan. Marga buay Belunguh mempunyai Lambang Paku Rura” dilom lungup ” subur sejahtera. Kerajaan Sekala Brak adalah satu kerajaan makmur, tangguh, bijaksana dn temashur kemana mana berdiri diatas kaki sendiri dengan lambang cambai mak bujunjungan”.
PENYEBARAN PENDUDUK
Mengenai Penduduk Buay Belunguh dan sekitarnya yang tersebar kedaerah Jambi atau kota kabupaten tersebut bernama Kenali (Kenali Besar adalah salah satu kelurahan di Kecamatan Kota Baru ). ex Marga Buay Belunguh juga diantara Palembang deng Jambi ada Perkebunan bernama Belalau. Kedaerah Semangka : kemudian orang - orang yang turun dari Pegunungan ke Lampung Selatan, sampai di Teluk Semangka mendirikn pula kampong kampung yang disebut lampung pesisir dan pada zaman pemerintahn Belanda menyusul perpindahan secara besar besaran, yaitu orang yang berasal dari Liwa dikepalai oleh kepala Adatnya mendirikan kampung Negara Batin, kemudian yang berasal dari suoh mendirikan kampong - kampung: Bandar, Sukabumi, Way Liwok serta Bandar Kejadian, serta Tingos. Bahkan Paman Sai Batin Pangeran Jaya diLampung pindah menggabung di Kampung Kagungan ex Marga Buay Belunguh Kota Agung.
Ketika terjadi Gempa Bumi besar meletusnya Bukit Bata diSuoh pada tgl 23 Juni 1933,  mengalir pula rombongan orang orang yang pindah ke Lampung Pesisir, dari Suoh mendirikan Kampung Karang. Dari Batu Brak dan Kenali mendirikan kampung Kenyangan dan Susukan. Adapula juga berasal dari Kenali dan Liwa pindah ke Talang Padang dan Pagelaran, bahkan di daerah Waya Telah berdiri empat kampong berasal dari Kenali dn Liwa (dua kampung termasuk dalam daerah Lampung Selatan dan dua kampung Lagi termasuk dalam daerah Kabupaten Lampung Tengah). Ke Kuripan  dan Kaliandak : di ex Marga Legun dan Kuripan Kaliandak, juga di Gedung Pekuon Teluk Betung yang telah merupakan kampong ialah anak anak dari Umpu Junjungan Sakti dari Buay Belunguh Kenali. Kedaerah Menggala keturunan marga Buai Bulan di Menggala berasal dari keturunan si Bulan yang dianggap saudara kandung oleh Paksi Pak dan meninggalkan tanah pembagiannya di cenggiring way nerima. Ke Pesisir Krui, keturunan Penggawa Lima dari Belalau (paksi Pak) bersama sama dengan keturunan Suku Tumi yg telah dikalahkan, mereka tinggal di kampong kampong Pedada, Bandar, Negeri, Perpas, Menyancang. Di ex Kewidanaan Way Kanan ada pula marga marga yg bernama Semenguk, Asal usul semenguk dan baratdatu itu dari dataran Menguh Buay Belunguh Kenali Kecamatan Belalau sekarang, dataran Menguk di Belalau itu sudah menjadi hutan tempat peladangan, dan banyak diketemukan batu batu bekas bekas tiang rumah dan siring siring peninggalan zaman dahulu tak dapat dipungkiri daerah ini zaman dahulu tempat beberapa kampong kampung besar, bambu berasal dari menguk dianggap penduduk sekitar kenali sebagai bambu terbaik untuk dibuat Bahan Serdam ( suling bambu cara Lampung belalau).
Dari Umpu Pernong / Buay Kenyangan, 1. Sebagian dari ex Marga Suoh yang pindah k Semangka. Sebelum dan sesudah gempa bumi besar tahun 1933. 2. ex Marga Banding Agung di Ranau. 3. Kampung Kenyangan di Kecamatan Kotaagung. 4. Kampung Kandang Besi di Semangka. 5. Marga Paku Sengkunyit di Martapura. dan 6.Di Pesisir Selatan Krui. Dari Umpu Nyerupa Sukau. 1. ex Marga Liwa Kecamatan Balik Bukit. 2. ex Marga marga : Gunung Kemala,Pedada, Bandar, Laai dan Pugung. 3. Kampung Komering Agung di ex Marga Nerupa Lampung Tengah. 4. Dan banyak pula merupakan kampong di Lampung Selatan. Dari Umpu Jalan Diwai / Kembahang, 1. ex Marga Ngambur Tembulih di Pesisir Selatan Krui, 2. Keturunan Naga berisang di Pekuon Ratu (Kecamatan Pekuon Ratu). 3.ex Marga Tanjung Jati di Ranau. 4. Kampung Kembahang di Kota Agung Semangka.
Untuk lebih jelasnya mengenai Pepadun adalah Melasa Kepampang ( Pohon nangka yang bercabang kayu Sebukau yang disembah sembah Suku Tumi karna dianggap suatu yang luar biasa, sementara kalau dimakan salah satunya akan keracunan dan penawarnya dimakan yang satunya (cabang) dan setelah masuknya Paksi Pak atau menyebarnya Agama islam oleh 4 umpu anak Raja Pagaruyung. Maka ditebanglah Melasa Kepampang itu dan dijadikan Tempat duduk yang selama ini dianggap Tuhan oleh bangsa Tumi itu.
 
sumber : saliwanovanadiputra.blogspot.com

0 comments:

Post a Comment